Jumat, 28 September 2012

WELCOME MOTHERHOOD -Part One.


Huaaaa... kangen bloggingggg. Selama ini kalo ada waktu, saya menulis di aplikasi memopad smartphone saya. Ga sempet buka laptop, ma mennnn. Motherhood oh motherhood. Eh iya iya, saya sudah melahirkaaannn. It's baby girl. Err, no no, I mean: It's a very cuteeee baby girl! Banyaaakkk yang ingin saya tulis. Satu satu yaaaa. Bagi bagi waktunya sama late nite birdwerks.
pic from web

Yes yes. Coffee, checked. Selimut kaki, checked (dingin nih di Mallory Towers, banyak anginn). Kue cemal cemil, checked. Merewind ke dua setengah bulan yang lalu... usia kandungan saya sudah hampir 40 minggu. Tidur malem sama sekali udah ga enak, tiap malem gerahnyaaa minta ampun. Baby ga keluar keluar, bikin stresss. Terakhir kali kontrol, hari sabtu 14 juli 2012, siangnya saya masih sempet jalan-jalan, nongkrong sambil makan pempek dan batagor sama suami. Malemnya baru kontrol ke Harapan Bunda. Dari sore perut ko berasa ga enak ya, kaya begaahhh. Dan obgyn-ku, dr. Mulya Ritonga, bilang: ini sih besok udah keluar Mi, udah kenceng. Seketika bahagia dan panik melanda. Hehe. Periksa dalem yaaa... *huaduhhh ini dia yang sering digosipin di kelas senam hamil. Untuk pertama kalinya saya 'dipegang-pegang' sama orang lain selain suami saya. Hehe. Ari ada disana, dan kita emang udah pernah ngobrol tentang pemeriksaan dalem. Kayanya dia cool aja deh. Wew*

Besoknyaaaa... saya mesti cek ke Harbun, soalnya ada flek. Wah udh mau keluar nih. Saya dan Ari pagi-pagi udah siap-siap. Ngangkut travel bag, beres-beres rumah, cuci piring, pelukan dulu biar tenang. Nyampe Harbun, eh baru bukaan satu. Saya disuruh senam hamil dulu. Lalu pulang ke rumah mertua. Sorenya saya cek lagi, ehhh ko masih bukaan satu juga yaaaaa. Seharian di rumah mertua, ko mulesnya dikit dikit doang yah? Saya pikir, ah cuma gini gini aja yah mulesnya. Mules kalo saya lagi mens JAUHHH lebih sakittt. Sampe malem, ko mulesnya ilang. Huaaa. Tengah malem saya bbm dr. Mulya, dok, mulesnya ilaaanggg. Senin pagi saya disuruh cek in ke Harbun. Oke. Cek lagi, baru bukaan dua. Sepanjang hari saya ngendon di ruang tunggu Harbun, jam 4 sore baru bukaan 3 sajaaaa. Lamaaaaa. Akhirnyaaaa... karena udah kelamaan, saya ditawari induksi. Hmmm, apapun yang terbaik deh. Untuk yang pertama kali dalam hidup saya, saya diinfus. Induksi ituuuu rasanyaaaa: RUARRR BIASAAA. Diawal-awal, sakitnya ilang dengan menangis. Lama-lama udah ga bisa nangis lagi saking sakitnya. Hehe. Moment di ruang bersalin itu dramatis banget deh. Berasa lagi ada di salah satu scene episodenya E.R. dan saya adalah bintang utamanya. Hihi. Ari udah saya gigit berapa kali, biar dia juga ikut ngerasa sakit dan bertanggungjawab sama sakit yang lagi aku rasain, hahaha. Dokterku bilang, mau sarung tinju, Mi? Aahhh... saya males jawab dok, hehe. Abis induksi cepet banget bukaannya. Tiba-tiba udah bukaan lima dan ketuban ngocorrr. Dr Mulya periksa lagi, trus entah apa yang dia lakukan didalam sana, itu sakitnyaaaa minta ampunnn. Sakit banget dokkkkk, abis diapain sihhh? Dia bilang dibantu biar cepet. Aduhhh pengen nangis senangis-nangisnya. Saya inget banget, ga boleh ngeden sebelum waktunya. Tapi, semakin lama, ko si otot-otot dalem rahim itu kaya otomatis ngeden sendiri. Saya jadi panik, takut baby kenapa kenapa. Jadilah saya teriak teriak minta maaf sama baby dalam perut *which is suami saya menganggap itu adalah fase antara sadar dan tidak sadarnya saya. Huaaahh, so tau bebbbb* Ga lama, saya sudah dikerubuti bidan dan suster, dan dr. Mulya pun. Siap-siap ngeden deh. Saya udah ga ada malu-malunya deh saat itu. Haha. Saya ga peduli kalo selangkangan dan paha saya yang item-item, saya juga agak ga begitu malu *cuma ga enak* saat saya pup sambil ngeden (hey, it's normal!). Lalala.... setelah beberapa kali ngeden dan dapet bantuan dari seorang bidan senior yang dipanggil Bunda (makasih bunnnn...), akhirnya keluarlah the baby girllll. Pengen nangis biar dramatis tapi gabisa, hahaha. Si baby abis ditempelin di tete langsung dibawa ke ruang bayi. Abis itu saya dijahit dan lain-lain. Kaki dan selangkangan keraaammm. Huiiihh. Awal malam yang panjang. Aika lahir hari Senin 16 Juli 2012 jam 8.51pm. Semua orang bilang dia mirip banget sama Ari. Hiks. Tapi saya pikir matanya yang indah itu mirip mata saya. Hahahaa. Semaleman saya gabisa tidur. Masih jetlag. Kaya kebangun dari mimpi selama 9 bulan. Ari suapin bubur sambil bilang: I proud of you. Iya beb, I proud of my self too. Malam yang panjang. Bukan sebuah akhir dari perjalanan ternyata. Setelah jetlag dan terbangun dari mimpi, saya harus bersiap memasuki petualangan yang lebih 'seru'. Biar penasaran, saya tulis: TO BE CONTINUED yaaa... hehe. TO BE CONTINUED TO: WELCOME MOTHERHOOD PART TWO. See you.

Senin, 18 Juni 2012

"Kesenian: Menjawab yang Tidak Terjawab"

Why people die? Because the mockingbird eat they breath. Why people cry? Because the clown stopped to dance. Why people desperate? Because they start to walking backward. Why people feeling lonely? Because they plays the monopoly, alone.

Rabu, 23 Mei 2012

Cerita Tentang 'What If'

Rasanya baru kemarin saya berkeluh kesah tentang ngidam, mual, morning sick, tiba-tiba sekarang sudah mendekati last chapter and another new beginning. Huwow! Ibarat membaca buku, sebagai fast reader, kamu pasti bisa merasakan bagaimana waktu menyelinap dengan cepat. Baru saja membaca bab pertama tiba-tiba lipatan buku sudah mengecil menuju halaman-halaman terakhir. Itu artinya adalah saatnya beralih ke buku baru! :D 32 weeks. It's about 6-8 weeks to go. Bisa juga kurang dari itu. I'm so happy! Apalagi baby di dalam perut sekarang sudah lebih sering menggeliat-geliat. Serasa punya teman saat sedang sendirian. Dokter bilang, it's baby girl. Honestly, pada awalnya saya mengharapkan anak laki-laki (hehe, sorry baby...) tapi lama-lama saya merasa baby girl is SO okey. Semua orang bilang: "Asyik, Mi, bisa didandani!".
Mendekati minggu-minggu kelahiran bukan berarti saya lebih tenang. Tapi saya berusaha tenang ko. Cuma kadang-kadang seringkali pertanyaan-pertanyaan berkeliaran di pikiran saya. Bagaimana jika nanti kelahirannya sulit? Bagaimana jika nanti air ketuban pecah di tempat yang tidak diinginkan? Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu terhadap bayi saya? Bagaimana jika ternyata saya tidak cukup banyak membaca bab kelahiran? Bagimana jika saya tidak cukup banyak meminum air kelapa dan sari kacang hijau? Bagaimana jika bayi saya tidak cukup tenang karena saya lebih suka mendengarkan Fiona Apple dan Beach House daripada Mozart dan Bethoven? Bagaimana jika ternyata mitos-mitos itu benar? Bagaimana jika ternyata saya tidak cukup nungging dan berjalan kaki di pagi hari? And so on so on.... Fuihhhh. Karena SEBANYAK apapun saya membaca teori dan SEBANYAK apapun saya mendapatkan informasi seputar kehamilan dan kelahiran dari orang-orang yang sudah berpengalaman, saya menyadari, kehamilan dan kelahiran adalah proses yang sangat personal. Setiap perempuan yang hamil pasti punya kisah dan pengalaman sendiri, yang khas tentunya. Jadi, saya berharap dan berdoa, semoga semua berjalan lancar dan baik-baik saja. Akhirnya saya mengganti pertanyaan-pertanyaan 'Bagaimana Jika' yang diatas menjadi: Bagaimana jika SEMUA KEKHAWATIRAN TIDAK TERJADI? Bagaimana jika SEMUA TERNYATA BAIK-BAIK SAJA? Sepertinya merasa khawatir itu baik. Membuat kita waspada. Asal porsinya pas, tidak berlebihan. Seperti status bbm nya temen SMP saya: Hope for the best but prepare for the worst. (Dia orang yang sangat realistic bukan? Haha). Well, sekarang kesibukan saya adalah mencari nama baby dan mempersiapkan berbagai perlengkapan. Saya dan Ari memilih nama AIKA untuk nama depannya. Aika means Love Song in Japanese. Cute and meaningfull, rite? ;D
Bismillah.

Jumat, 04 Mei 2012

A Boy Who Hates Blue.

Suamiku adalah seorang detektif. Detektif dengan indera keenam yang SANGAT sensitif. Kasus yang paling sering dia tangani adalah kasus misteri yang melibatkan pembunuhan. Seringkali dia pulang dengan wajah kusut dan tubuh layu. Kata Ian, baru saja ada pembunuhan. Hmmm, kasus baru berarti hantu baru. Suamiku bilang, roh-roh selalu mengikutinya ke rumah lalu menempeli aku. Jadi disaat aku ingin memeluknya untuk sekedar melepaskan sebagian bebannya hari itu, dia selalu menghindar, menatapku dengan pandangan jijik atau mengibaskan 'sesuatu yang tidak kasat mata' dari pundakku, seperti ada gumpalan debu yang menempel. *** Suamiku adalah seorang biseksual. Pasangannya adalah partnernya sendiri, Ian. Mereka memang sudah seperti itu sejak pertama kali aku mengenal suamiku. Aku sih tidak keberatan. Pekerjaanku sudah menelan cukup banyak waktu sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal semacam itu. Sahabat-sanabatku berkata bahwa aku sudah gila menikahi seorang biseksual. Tapi aku tidak begitu peduli. Aku cinta Mike apa adanya. *** Kami tinggal di sebuah paviliun yang cukup luas. Sebetulnya, ada satu rumah besar yang ditinggalkan oleh orang tua Mike, suamiku, untuk kami. Tapi rumah itu terlalu besar untuk kita berdua. Jadi kami memutuskan untuk menyewa sebuah paviliun kecil dan meninggalkan rumah besar itu kosong. Tidak benar-benar kami tinggalkan, beberapa kali kami pernah mengadakan pesta bersama sahabat-sahabat di rumah itu. *** Di paviliun ini, suamiku hanya datang untuk tidur. Di pagi hari kami sarapan di cafe kecil di ujung jalan. Aku pulang ke paviliun untuk kembali bekerja, suamiku pergi kekantornya. Kadang-kadang Ian ikut sarapan juga. Lalu aku makan siang sendiri, kembali bekerja, minum kopi di sore hari -sendiri- kembali bekerja, lalu bekerja sambil larut malam sampai suamiku datang bersama Ian. Ian pulang. Aku dan Mike melakukan sedikit aktifitas seksual, lalu kami mandi, minum kopi atau teh dengan waffle hangat lalu tidur. Catatan: itu yang terjadi jika Mike tidak sedang mengerjakan kasus. Jika dia sedang dalam kasus, seperti yang sudah aku ceritakan, dia sama sekali tidak mau menyentuhku. Karena aku 'berhantu'. *** Aku, Gwen. 27 tahun. Pekerjaanku adalah fashion designer. Aku mengerjakan desain-desain untuk beberapa label ternama. Dan aku pun mengerjakan pekerjaan lain. Menulis, menjadi volunteer reader di sekolah tuna netra, dan beberapa pekerjaan suruhan orang lain. Tinggiku 165cm. Tidak kurus, tidak terlalu gemuk pula. Rambutku ikal sebahu dan agak kecoklatan. *** to be continued...

Sabtu, 11 Februari 2012

Tarian Semut.

A very long long long time ago, I was a hero for ants. Saya suka menolong semut-semut yang tenggelam di air atau terbawa arus menuju saluran pembuangan air. Memungut mereka lalu memindahkannya ke tempat yang kering.

Tapi itu sudah lamaaaa sekali. Semenjak saya pindah dari rumah orang tua saya, saya adalah seorang pembasmi serangga, terutama semut. Dikosan saya dulu, setiap seminggu sekali, saya pasti harus memindahkan barang-barang dan perabot untuk memeriksa apakah ada gerombolan semut-semut yang bersarang atau tidak. Dan perburuan saya disetiap minggunya memang selalu berhasil! Rumah-rumah semut itu saya bombardir dengan semprotan anti serangga. Sarang semut yang penuh telur yang menempel di barang-barang saya bawa keluar dan saya jemur di bawah panas matahari. Kayanya ada kepuasan setiap saya berhasil menemukan dimana semut-semut itu bersembunyi. Pernah suatu kali saya menemukan mereka berada di dalam kotak cat saya. Whaaatttt??!! Saya langsung membinasakannyah!

Itupun sudah terjadi cukup lama. Sekarang saya sudah pindah. Ke sebuah flat berlantai 4. Perfect place buat pasangan muda yang baru menikah dan masih berbudget paspasan (hehe). Flat ini bersebelahan dengan kawasan persawahan yang cukup luas. View yang sangat menarik menurut saya. Pagi hari kami bisa menikmati matahari terbit dari ketinggian lantai 4 dan dimalam hari kami bisa menikmati city light. Jika musim panen tiba, serangga-serangga aneh selalu mampir di rumah. Yang paling sering adalah satu jenis serangga yang kami panggil 'si belang' karena badannya belang-belang. Beberapa bagian tubuh kami sudah jadi korban si belang. Gigitannya ampuh hingga selalu menimbulkan bekas luka yang 'engga banget'. Setiap malam tiba, lampu dalam rumah harus selalu dimatikan karena si belang itu penyuka cahaya. Jadi biarkan saja mereka berkumpul di lampu teras luar. Trik jitu.

Saat serangan si belang sudah mulai hilang, datanglah serangan semut! Ah, mereka lagi. Saya mulai melakukan aksi pembasmian semut seperti yang dulu pernah saya lakukan. Semut di rumah saya ini, jenisnya banyak. Dari mulai semut kecil yang jalannya pelan kaya zombie, semut hitam yang ukurannya standar dan jalannya terbirit-birit, semut hitam yang agak besar -sepertinya kepala rombongan karena mereka selalu tampak sedang mengorganize semut-semut yang lain- dan semut merah! Yang paling menyebalkan adalah semut merah ini. They're biting! Dan bekas gigitannya sakitttt sekali.

Saya sekarang sudah lebih rajin membuang sampah dan tidak lagi membiarkan cucian menumpuk di wastafel. Karena si semut-semut merah itu senang sekali berkumpul dan mengangkut sisa-sisa makanan di sana. Setelah semua bersih, anehnya mereka tetap ada! Di tempat yang bahkan sepertinya tidak terduga. Di lipatan lap basah! Mereka banyaakkk. Aaahhhhhhh....

Sialnya, karena saya sedang hamil, saya jadi tidak bisa membunuhi mereka satu persatu. Saya tidak bisa menyemprot mereka dengan cairan anti serangga. Jadi saya hanya 'memindahkan' mereka ke luar jendela atau menyapukan si semut-semut menyebalkan itu dengan perlahan dan hati-hati.

"Ahhhh... tunggu saja kau semut, jika nanti ada bayi di rumah dan kalian masih berkeliaran, aku akan bergerak cepat dengan semprotan ditanganku. Hahahaaaa *evil laugh."

Senin, 19 Desember 2011

Hamil Muda.

Yeah. Setelah NGIDAM, tulisan selanjutnya adalah: HAMIL MUDA! Ahhhhh... begitu besar yah pengaruh yang diberikan sebuah keajaiban Tuhan terhadap perilaku dan ide seseorang, saya maksudnya. Mumpung pagi ini morning sicknya tidak begitu mengerikan, saya cepat-cepat ambil laptop dan menuliskan ini: PERBEDAAN SIGNIFIKAN SAAT SEDANG HAMIL MUDA.

Saya kemarin berubah menjadi seorang analyst. Menganalisa apa saja yang berubah dalam perilaku mental dan fisik saya selama hamil muda ini. Fyi, umur kehamilan saya menuju 3 bulan.

Perubahan pertama. Beberapa saat sebelum hamil muda, saya sedang membayangkan menjadi seorang koki rumahan yang lebih ahli. Bahkan saya berniat membeli sebuah oven listrik agar saya bisa memanggang home made cookies di rumah. Saya membayangkan rumah saya berbau cinnamon dan jahe. Hmmmm. Tapiiiiii... hamil muda membuat saya harus melupakan hal-hal itu. Mencium bau minyak yang sedang menggoreng, uap nasi yang sedang dimasak, mie instan yang sedang direbus, membuat saya ingin muntahhhh. Oh, lupakan dulu tentang oven!

Perubahan kedua. Setelah menikah, let say, saya dan suami pindah ke tempat yang uang sewanya jauh lebih murah tapi ruangannya lebih besar dari tempat sebelumnya (thx God). Agak jauh ke jalan raya memang, tapi kami bertujuan agar bisa menabung lebih banyak uang dan saat tabungan kami sudah cukup banyak, BANG BANG BANG, belilah sebuah rumah mungil! Atau at least dp nya dulu deh. Hehe. Hamil muda, membuat saya agak tidak bisa menabung. Kenapaaaaa? Karena, saya sudah tidak kuat mencium aroma masakan jadi kami dengan borosnya membeli makanan jadi. Ehmm.... makan siang dimana yah kita? Makan malem beli apa yahhhh? Dan di akhir bulan, kami pulang ke rumah Ibu saya (karena disana saya bisa minta dibikinkan makanan apa saja yang saya mau).

Perubahan ketiga. Pemalas! Katanya yang ini bisa dilawan. Ehm... bisa sih, kalo ada kerjaan yang mepet banget deadlinenya, saya masih bisa kerja. Meskipun 99% keinginan hati adalah berguling-guling di kasur sambil baca komik atau nonton tv ;p

Perubahan keempat. Sebelum hamil muda, saya adalah monster pemakan segala. Saya makan apa saja. Kecuali sushi. Setelah hamil muda, saya berubah menjadi mesin pemuntah makanan. Saat morning sicknya agak parah. Saya bisa muntah sehari tiga kali. Dari memuntahkan semua makanan yang sudah saya makan dengan susah payah sampai muntah air. Oh God, kalo udah gitu saya jadi pengen nangisss... anak saya makan apa dongggg.

Perubahan kelima. Dandan. Saya bukan tipe perempuan yang senang menghabiskan waktu berjamjam untuk berdandan rutin setiap hari. Dengan 10 menit di depan cermin, saya sudah melakukan semuanya. Dan selagi hamil muda ini, saya malah jadi semakin malas berdandan. Pergi dengan baju kemarin, tidak memakai bedak, apalagi eye liner, malasss. Bahkan saya bisa saja tidak mandi selama dua atau tiga hari berturut-turut. Hahahaaa. Kata teman saya, "Ami kucel ih". Saya engga bisa protes. Zzzzz. Katanya kalo kaya gitu, anak saya laki-laki. Haha. Entahlah. Punya anak perempuan juga kayanya menyenangkan, tapi laki-laki juga boleh dong. Aminnn ;D

Perubahan keenam. Semakin sentimentil. Saat sedang menginap di rumah Ibu, saya jadi sering sekali memikirkan hal-hal di jaman dulu. Memori-memori saat saya kecil sampai hari-hari saat Bapa saya sakit dan akhirnya pergi menuju keIlahian. Saya jadi sering menangis karena merasa rinduuu dengan semuanya. Masa kecil dan orang-orang yang ada didalamnya.... Ujung-ujungnya, saya cuma bisa mendoakan Bapa saya dan memeluk erat ibu saya. Hiks.

***

Kemarin saya sengaja jalan-jalan keluar setelah seharian dirumah dan seharian mual muntah. Sambil menahan aroma-aroma makanan di sepanjang jalan, saya berfikir: makan siang apa yah? Akhirnya saya memilih untuk makan siang di Solaria. Karena saya ingat disana ada nasi capcay kesukaan saya. Dan tempatnya pun nyaman, cocok untuk mengatur nafas dan menahan mual. Dan strategi saya berhasil, saya makan satu porsi nasi capcay tanpa bakso dan tanpa muntah. Yesss! Lalu berdasarkan saran seorang teman, saya membeli satu kotak susu untuk ibu hamil yang katanya mengandung lebih banyak nutrisi dan vitamin yang bisa mencegah mual. Checked.

***

Hamil muda itu... kalo saya bilang sangat menyenangkan dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar, saya berbohong. Lebih tepatnya campur-campur. Kadang-kadang saya pengen nangis karena putus asa ga bisa makan karena mual sangat, kadang-kadang merasa bahagia sangat karena telah dipercaya oleh Tuhan, dan kadang-kadang kesal karena saya masih saja belum bisa bekerja secara intensif. Hehe.

Tapi saya sudah bertekad: saya akan jalani semuanya! Dan berusaha menikmati hari-hari yang unpredictable. Apakah besok akan mual atau tidak.... Apakah besok akan muntah atau tidak.... Hahaha. Tuhan, kasih saya kekuatan yaaaaa.

Kamis, 01 Desember 2011

Ngidam.

Sekarang saya tau gimana rasanya ngidam. Katanya orang ngidam suka pengen yang aneh-aneh dan keinginan yang aneh-aneh itu harus dipenuhi secepat mungkin. Sekarang saya tau alasannya. Hmm.

Hamil. Rasanya: senang dan takut. Ngidam. Rasanya: mual. Makanan aneh-aneh yang dipesan saat ngidam -kalo buat saya- bukan hanya mengikuti keinginan 'jabang bayi' semata, tapi lebih ke mencari moment makanan apa yang bisa masuk ke dalam perut tanpa menimbulkan rasa ingin muntah. Saat ngidam, syarat makanan harus enak itu jadi nomor dua, yang pertama adalah yang penting pilih makanan yang bisa masuk dan tidak bikin mual X_X.

Morning sick. Rumah saya ada di lantai 4. Matahari masuk lebih cepat. Saya lebih suka pagi yang sejuk atau agak mendung dari pada pagi yang cerah. Matahari berlebihan bikin pagi saya makin 'sickness'. Matahari membuat semuanya keliatan: rumah yang berantakan, baju-baju yang menumpuk, dapur kotor yang belum dibersihkan, lantai yang harus di pel, cucian piring di dalam wastafel. Arrrgggh.

Hidung. Ngidam berhubungan dengan hidung. Saat masa ngidam hidung menjadi sangat sensitif. Bau masakan tetangga yang jauh pun tercium. Sensitif sekali. Berani taruhan satu kotak makanan bayi, hidung ngidam hampir setajam hidung anjing pelacak ;D

Air putih panas sangat membantu saya mengatasi mual dan morning sick. Dan satu lagi, saat mual menyerang: katupkan mulut dan sedikit bicara, it's helpfull.

Kata Dr. Oz, trisemester pertama si gejala ngidam ini akan terus melanda. Kesenangan akan hadir di bulan selanjutnya. Ah, can't hardly wait! Berarti itu sekitar beberapa minggu lagi. Hhhhhhh.

Anyway, saya tidak akan menyerah. Kata Ari, nikmati ngidamnya ya, (yeah, rite...).

Sekarang saya lagi pengen makan kentang goreng Mc Donald yang baru digoreng.