Kamis, 21 Juli 2011

"Believe nothing.
No matter where you read it or who said it, even if I have said it.
Unless it agrees with your own reason and your own common sense."

~Buddha.

A Death Named Danjuro.

Danjuro, si pemilik toko pelayanan kematian. Dia menurunkan rolling door di bulan untuk seorang nenek yang susah mati karena cahaya bulan yang terlalu terang.

Danjuro beryukata, bercelana dalam hitam, berstoking jaring.

Mau pilih mati cara apa? Tanya Danjuro. Kalau kau punya uang banyak, kau bisa memilih cara kematianmu. Mati bernyanyi, mati gantung diri, mati tersedak, mati sambil onani? Tanya saja, mati apa yang belum terjual habis.

Kematian seperti kartu yang dibuka, disusun, dan dibawa pergi. Kematian adalah seni.

Danjuro menari can can. Aku mau mati cara Danjuro.

Sabtu, 25 Juni 2011

Pecinta Kata.

Namaku berada tepat di deret bawah namanya. Seperti urutan B setelah A, atau J setelah I.

Kami berdua merangkai kata. Membuat rangkaian puzzle menjadi satu. Menyusun kotak-kotak di atas papan scrabble. Menjadikan huruf bersambung menjadi kata dan rangkaian kata-kata. Kadangkala kami seperti penderita disleksia, lalu menciptakan kata baru. Bahkan kami pun pandai membuat rangkaian anagram.

Orang bilang, kami mirip. Muka dan gestur, sepertinya. Padahal kami berasal dari belahan daging dan tetesan darah yang berbeda. Kami suka vintage, ecletic, musik yang sama, warna yang sama, dan menderita jenis keanehan yang sama. Kami saling mencintai gaya kami satu sama lain.

Kami adalah pencinta kata-kata. Membuat kata terdengar lebih bermakna dan indah untuk diucapkan. Kami cinta kata. Kadang-kadang kami mencuri kata-kata untuk memolesnya kembali menjadi kata yang lain. Bermain-mainlah. Seperti kami. Sangat menyenangkan. Karena dunia kata-kata itu tidak terbatas dan abstrak. Kita bisa membuat apapun dan melakukan apapun. Hal paling ajaib sekalipun.

Membuat kata, membuat kami merasa nyaman dan damai. Seperti hidup di desa Heidy dan menghirup teh hangat di sore hari.

Ucapkan selamat datang kepada kami. Jangan lupa, berdasarkan urutan: seperti B setelah A, atau J setelah I.

Minggu, 12 Juni 2011

CoffeeMoment.



PERTJA. PERCA.

Kami menonton teater tadi malam. Mengobati kerinduan. Sudah lama kami tidak nonton teater. Judulnya: PERTJA. Teaternya pak Benny, Benny Johanes, Benjon. Saya juga rindu kuliahnya pak Benny. Jadi saat ada berita Benjon bikin pertunjukan, saya langsung menyingkirkan jadwal yang lain.

Tiket habis. Tapi seorang sahabat memberikan kami tiket gratis. Yesssss. Selain itu kami dapat tempat terbaik, karena kami masuk 'lewat pintu samping', jadi kami masuk sebelum pintu masuk officially open for public. Lalalalaa...

Bukan teaternya Benjon kalau tidak kaya dengan simbol dan metafora. Pasti ada makna kenapa gunting tanaman itu dicucukkan terbalik di atas pagar tanaman. Tirai transparan yang dipasang untuk membatasi ruang antara sudut pandang penonton dengan ruang tamu keluarga Pupu, saya menangkapnya sebagai selubung misteri dalam keluarga ini. Lalu, pasti Benjon juga punya alasan kenapa dia selalu mengerutkan pantat dan menempelkan kedua pahanya saat berjalan. Oh, mungkin karena malam ini dia berperan menjadi seorang wanita yang terperangkap dalam tubuh laki-laki. Juga pohon tomat, lagunya Sarah Mclachan, lingerie merah, gambar kepala kelinci di kaos Pupu... Simbol dan metafor menari-nari semalam.

Pertja, menawan. Bukan (cuma) karena acting kebanci-banciannya Benjon. Tapi setiap karakternya memiliki peran penting dan semuanya berperan dengan (lagi-lagi): menawan. Keluguan Selasih, kegagahan kakak perempuan, Ryan si flamboyan (karakter menawan yang sedikit 'agak basi' karena sangat identik dengan Ryan Jombang), Brojo dan kudanya yang selalu berdengus.

Dan saya suka mengamati dan mengumpulkan perca-perca yang tersebar di dalam setiap alurnya.

***

Dibandingkan pertunjukan Benjon sebelumnya yang saya tonton, Shakespheare Carnivora, Pertja, saya pikir lebih lite dan lebih padat dan lebih efektif. Terbukti, selama pertunjukan, saya tidak tertidur. Hahaaa.

Malam tadi, kami berhutang dua kursi pada teater. Kami pulang dengan hati riang.


Selasa, 17 Mei 2011

Keiko Si Bajak Laut Penidur.

Keiko masih terombang-ambing di atas stasiun radio miliknya. Sebuah kapal kecil yang hanya memuat lima orang saja. Ada Odin, si kapten pemabuk. Keila, koki cantik. Baba, teknisi kapal dan pembuat coklat panas terhebat. Barnabah, seorang hippie yang suka ikut siaran di tengah malam. Dan Lily, putri yang baru saja tenggelam dan diselamatkan oleh Keiko, dia masih meringkuk ketakutan di sudut kamar. Dia pikir semua kapal yang berlayar adalah kapal bajak laut.

Keiko memutar piringan hitam yang ditemukan di kolong tempat tidur, petinya sudah lecet dan covernya sudah buluk. Lagu-lagu tidak dikenal. Terdengar seperti irama psychedelic yang sudah lama tidak terdengar. SUKA! Piringan hitam noname diputar berulang-ulang malam itu.

Lily, mendengar irama noname. Dia sedikit menggeliat. Odin mengkerutkan kening: “Keila… ambilkan lagi bir untukku, jangan lupa pakai bikinimu ya, manis.”

Baba dan Barnabah berdansa sambil memenuhi perut mereka dengan coklat panas lezat.

Dan Keiko, dia tertidur. Ditumpukan peti berbau aneh, diantara musik noname yang misterius.

Minggu, 08 Mei 2011

Selamat Pagi, Gula-Gula.

Atau: Morning, Sugar!

Pagi ini memulai hidup dengan kumpulan warna-warna fuchia yang berbulu. Berbau permen kapas rasa melon dan strawberry. Saya tidak mengada-ngada.

Gula-gula itu enak. Apalagi kalo sudah tumpah di lantai. Enak untuk dijilat. Semut mulai ikut berbicara. Sssssttttttt!

Well, selamat pagi, sugar!
Mari memetik hari sambil menari bersama kata.